Ilustrasi Gambar Jumat Agung

SobaTanda, kita pasti pernah mendengar ucapan atau nasehat dari seseorang untuk melihat segala macam penderitaan kita sebagai “Salib Yesus”. Misalnya ketika orang tua kita terkena PHK karena covid-19, pasti ada yang mengatakan: “terimalah penderitaan itu sebagai salib Yesus!’. Atau ketika kita masih sekolah, lalu ayah terserang penyakit stroke dan tidak bekerja lagi. Salah satu saudara kita mungkin juga akan mengatakan: “Yang sabar yaa..anggaplah sakit papa ini sebagai Salib Yesus.” 

Nilai kita jelek, kita tidak diterima di PTN yang diinginkan, kuliah tidak lulus-lulus, usaha kita hancur karena ditipu rekan, jabatan dalam pekerjaan diturunkan, dan masih banyak penderitaan-penderitaan yang kita alami kerapkali kita diajak untuk menerimanya sebagai “Salib Yesus” yang harus kita tanggung. Benarkah demikian?  

Dalam tradisi Kristiani, salib memang merupakan puncak penyerahan diri total Yesus untuk menebus manusia dari dosa. Padahal pada awal masa Kerajaan Romawi, salib sebenarnya dianggap sebagai simbol kutukan bahkan kehinaan. Karena pada masa itu, salib digunakan sebagai alat untuk menghukum seseorang yang telah melakukan kesalahan dan tindak kejahatan yang luar biasa. Tepatnya, untuk dosa yang dianggap tidak akan terampuni. Yesus pun mengalami penyaliban karena dituduh melakukan banyak kesalahan dan tindak kejahatan yang luar biasa. Salah satunya menurut hukum Yahudi, Yesus dituduh melakukan pelanggaran agama, karena mengaku diri sebagai “Anak Allah”. Hal ini dianggap berarti menyamakan diri-Nya dengan Allah, yang merupakan penghujatan yang harus dihukum mati (bdk. Luk 22:70-71).

SobaTanda yang terkasih,  

Sebagai seorang Kristiani kita semua tahu bahwa Salib yang semula merupakan simbol kutukan dan kehinaan, lalu diubah oleh Yesus menjadi simbol yang menyelamatkan banyak orang. Wafat-Nya di kayu salib merupakan tanda pengorbanan Anak Domba Allah untuk menebus manusia dari dosa. Pengorbanan Yesus ini dilakukan sekali untuk selamanya, sehingga membuat praktik korban hewan seperti di dalam Perjanjian Lama tidak lagi diperlukan (bdk. Ibr 9:23-26). Dengan memikul dosa kita, Dia rela mati dan menumpahkan darah-Nya untuk menjadi korban persembahan bagi kita. Alhasil, kita sekarang dapat menghampiri hadirat Allah dengan penuh keberanian. Karena penyerahan diri Yesus telah menjadi korban persembahan kita, hidup-Nya menjadi hidup kita, dan Bapa-Nya menjadi Bapa kita. Itulah sebabnya ucapan syukur apakah yang pantas kita berikan kepada-Nya?

SobaTanda yang terkasih, 

Di dalam peringatan Jumat Agung ini, kita patut bersyukur kepada Yesus karena telah mengorbankan diri-Nya untuk menyelamatkan umat manusia yang penuh dengan noda dosa. Ia tidak marah, tidak melawan, dan tidak membalas hinaan, meskipun diri-Nya menderita dan sakit karena  mendapatkan perlakuan kasar dari orang-orang yang membenci-Nya. Bahkan Ia mengampuni mereka semua ketika berada di kayu salib. Ia berdoa kepada Allah untuk mengampuni mereka semua karena tidak tahu apa yang telah mereka perbuat (bdk. Luk 23:34). 

SobaTanda yang terkasih,

Permenungan akan peristiwa penyaliban Yesus ini telah membawa pemahaman kita akan makna “Salib Yesus”. Ketika kita sedang menderita karena ketidakadilan, kita kerapkali merenungkannya sebagai “Salib Yesus”. Ketika kita sedang mengalami kesulitan dalam hidup ini, kita kerapkali juga merenungkannya sebagai “Salib Yesus”. Bahkan ketika kita merasa lelah dan  berbeban berat saat menjalani  kuliah yang disarankan oleh orang tua sedari awal, kita juga langsung merefleksikannya sebagai “Salib Yesus”. Benarkah demikian? 

Dalam peristiwa penyaliban Yesus, kita melihat ada beberapa tokoh yang berperan besar dalam peristiwa tersebut. Pertama, ada Yudas Iskariot yang menyerahkan Yesus kepada para pemuka agama saat di Taman Getsemani. Kedua, ada Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi yang menangkap Yesus untuk diadili di depan Mahkamah Agama atas segala macam tuduhan kesalahan-Nya. Ketiga, ada pula Pontius Pilatus yang membiarkan Yesus disalib karena didesak oleh orang banyak supaya segera menyalibkan Yesus. Dan di samping para tokoh itu, masih ada dua orang lagi yang dapat kita renungkan juga turut ambil bagian dalam penyaliban Yesus, yaitu Simon Petrus dan Simon dari Kirene. Oleh karena ada banyak tokoh yang terlibat dalam penyaliban Yesus ini, kita hanya ingin merenungkan peristiwa salib ini berdasarkan tindakan Simon Petrus, Yudas Iskariot dan Simon Kirene sehingga dapat menyimpulkan makna salib Yesus yang sesungguhnya.

1. SALIB PETRUS

Puncak Basilika St. Petrus, Vatikan

Kita semua mengenal Simon Petrus, atau biasa dipanggil dengan sebutan Petrus. Ia murid yang sangat ‘mencintai’ Yesus dan selalu berusaha ingin melindungi-Nya, meskipun salah dalam perbuatannya dan melarikan diri. Kita dapat mengenal kepribadian Petrus dalam beberapa peristiwa berikut:

  1. Petrus adalah murid Yesus yang tersungkur di depan Yesus saat ia dipanggil-Nya untuk menjadi ‘penjala manusia’. Ia kagum akan mukjizat yang dilakukan Yesus di hadapan-Nya, sehingga ia tersungkur di hadapan-Nya dan merasa tidak pantas Tuhan datang kepadanya (bdk. Luk 5:1-11).
  2. Petrus adalah murid Yesus yang dipilih-Nya untuk memimpin Gereja selanjutnya. 
    • Yesus pernah berkata kepada Petrus: “Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya” (bdk. Mat 16:18). 
  3. Petrus adalah murid Yesus yang selalu diajak-Nya untuk berdoa bersama secara khusus. Bersama dengan Yohanes dan Yakobus, ia pergi ke puncak gunung untuk berdoa dan melihat sendiri Yesus yang mengalami transfigurasi, atau berkilauan cahaya. Pengalaman sukacita inilah yang membuat Petrus berkata kepada Yesus untuk membuat kemah bagi Yesus bersama dengan Musa dan Elia tadi. Namun Yesus menolaknya (bdk. Mat 17:1-12).
  4. Petrus adalah murid yang menentang Yesus yang selalu membicarakan tentang Anak Manusia harus menderita sengsara. Namun Yesus kemudian menegurnya dan meminta kepada para murid-Nya bahwa untuk mengikuti-Nya harus siap memikul salibnya (bdk. Mat 16:22-24)
  5. Petrus adalah murid yang mengeluarkan pedang dan memotong telinga seorang prajurit Bait Allah yang datang menangkap Yesus di Taman Getsemani. Namun kemudian Yesus memintanya untuk menyarungkan pedangnya kembali dan menyembuhkan telinga seorang prajurit tersebut (bdk. Mat 26:51-52).
  6. Petrus adalah murid yang ikut meninggalkan Yesus yang ditangkap dan dijatuhi hukuman mati. Bahkan ia juga mengkhianati Yesus dengan mengganggap dirinya tidak mengenal Yesus ketika bertemu dengan orang-orang yang bertanya kepada dirinya mengenai kemuridannya. Ayam berkokok menjadi penanda pengkhianatannya (bdk. Mat 26:69-75).
  7. Petrus adalah murid pertama yang lari ke makam Yesus ketika mengetahui Yesus telah bangkit (bdk. Luk 24:12)
  8. Petrus adalah murid yang bertemu dengan Yesus di pinggir pantai setelah kebangkitan-Nya. Ia berbincang-bincang dengan Yesus dan ditanya mengenai rasa cintanya kepada-Nya sampai tiga kali, namun pada saat pertanyaan ketiga ia sangat sedih. Tetapi Yesus tetap memintanya untuk menggembalakan domba-domba-Nya (bdk. Yoh 21:15-17). 

Begitu banyaknya kisah Petrus dalam kitab suci menandakan bahwa Petrus adalah seorang rasul yang sangat penting dalam perjalanan hidup Yesus. Ia yang berasal dari kaum Zelot, yaitu para pejuang Yahudi yang sangat radikal, dipilih oleh Yesus untuk menjadi salah seorang rasul-Nya. Beberapa peristiwa di atas sangat jelas menunjukkan rasa cinta Petrus kepada Yesus yang sangat berkobar-kobar. Ia selalu berusaha tampil terdepan dalam hubungannya dengan Yesus, baik melalui perkataan dan perbuatan. Dan ia juga selalu berusaha melindungi dan menjaga Yesus. 

Sayangnya, rasa cintanya kepada Yesus ini kerapkali blunder, atau salah dalam menanggapinya. Ketika ia menentang Yesus yang berbicara tentang kisah sengsara-Nya, ia langsung ditegur Yesus dan dikatakan “Enyahlah kau iblis!”. Lalu ketika ia mengatakan ingin mendirikan tenda untuk Yesus, Musa, dan Elia, Yesus juga tidak langsung menyetujuinya. Dan ketika ia memotong telinga seorang prajurit bait Allah, Yesus juga memintanya untuk menyarungkan pedangnya. Bahkan ketika Yesus ingin membasuh kaki para rasul-Nya sebelum perjamuan terakhir (Kamis Putih), ia juga ditegur Yesus karena tidak memahami tentang makna pembasuhan kaki saja. Sebab Yesus tidak perlu membasuh bagian tubuh yang lain karena setiap orang sudah mandi. 

Rasa cinta Petrus kepada Yesus yang kerapkali blunder inilah yang akhirnya terjawab di akhir perjumpaan mereka. Ketika Yesus bertanya kepada Petrus sebanyak tiga kali mengenai rasa cintanya kepada diri-Nya, Yesus menjadi tahu kadar cinta Petrus selama ini sehingga membuat dirinya salah dalam merefleksikan rasa cintanya kepada Yesus. Sesudah kebangkitan-Nya, Yesus menampakkan diri beberapa kali. Hingga suatu kali ia menampakkan diri di pinggir pantai sedang membakar ikan. Petrus menghampiri Yesus, dan Yesus bertanya kepada Yesus tentang rasa cintanya, yang dalam Bahasa Yunani sebagai berikut:

  1. Yesus bertanya: “Simon agapas me?”, lalu Petrus menjawab: “phileo te!” 
  2. Yesus bertanya kedua kali: “Simon agapas me?”, lalu Petrus menjawab: “phileo te!”
  3. Yesus bertanya ketiga kali: “Simon agapas me?”, lalu Petrus menjawab: “phileo te!” sambil menangis.

Petrus begitu menangis dengan pertanyaan ketiga Yesus karena dirinya tidak mampu memberikan cinta yang Agape. Petrus hanya sanggup memberikan cinta yang filial, yaitu cinta yang merupakan hubungan pertemanan saja. Rasa cinta yang hanya sampai batas menghargai satu sama lain, menghormati satu sama lain, dan saling mengenal satu sama lain. Namun cinta agape yang ditandai dengan kemampuan memberikan cinta yang tulus, penuh pengorbanan, terbuka satu sama lain, pasrah dan sebagainya, belum mampu diwujudkan Petrus. Itulah sebabnya pada saat penyaliban, ia meninggalkan Yesus karena belum mampu memberikan cinta yang agape. Maka dari itu ketika Yesus bertemu lagi dengannya di pantai, ia mengharapkan Petrus mampu memberikan cinta yang agape kepada-Nya. Namun pada saat itu Petrus masih belum menyanggupinya hingga ia menangis di hadapan Yesus. 

Akan tetapi, dalam perjalanan waktu, Petrus pun mampu memberikan cinta yang agape kepada Yesus melalui peristiwa penyalibannya di bukit kota Roma. Ia disalibkan terbalik karena merasa tidak pantas seperti salib Yesus. Ia meminta salibnya terbalik karena dirinya hampir mengkhianati Yesus keempat kalinya. Saat kota Roma dibakar oleh Kaisar Nero untuk memusnahkan orang-orang Kristen, ia melarikan diri keluar kota Roma. Namun saat di luar tembok kota Roma, ia berjumpa dengan Yesus yang memikul salib-Nya menuju kota Roma. Melihat hal itu Petrus langsung bertanya: ‘Quo vadis, Domine?’, yang artinya ‘Mau kemanakah Engkau, Tuhan?’. Yesus pun menjawab: ‘Venio Romam iterum crucifigi’, yang artinya ‘Aku hendak kembali ke Roma untuk disalibkan kembali’. Ucapan Yesus itu menyadarkan akan panggilan dan rasa cintanya kepada Yesus. Maka ia pun kembali ke kota Roma, ditangkap, dan disalibkan terbalik oleh para prajurit Romawi atas permintaannya.Tempat penyaliban Petrus itu, saat ini berdiri Bassilika St.Petrus di Vatikan, Roma. Di bawah bangunan tersebut ada makam St.Petrus, Paus pertama umat Katolik. 

Peran serta Petrus dalam kisah penyaliban Yesus ini dapat kita simpulkan sebagai SALIB PETRUS. Salib yang menunjukkan rasa cinta  seseorang kepada orang yang disayang dan dikaguminya, namun ia tidak mampu menunjukkan rasa cintanya itu dengan benar. Ia kerapkali terjebak dalam pemaknaan cinta yang salah terhadap sosok yang disayang, dikagumi, dan ingin dilindunginya. 

Kita pun pernah terjebak di dalam pemaknaan cinta yang salah terhadap seseorang atau sekelompok orang yang kita sayang dan kita kagumi. Sebut saja seorang ayah yang bekerja siang dan malam untuk memenuhi kebutuhan anak dan istrinya. Bahkan sampai hari minggu pun ia masih harus mencari kerjaan tambahan supaya dapat menafkahi anak dan istrinya. Ketika istri dan anaknya mengharapkan sang ayah meluangkan waktu untuk mereka, sang ayah kerapkali menjawab “sabar dulu, inilah salib Yesus yang harus kita tanggung supaya hidup kita layak.” Benarkah ucapan ayah tersebut? Tentu saja salah, ia terjebak dalam SALIB PETRUS, bukan salib Yesus. Sebab ia menghabiskan waktunya untuk bekerja demi kebutuhan anak dan istrinya, tetapi lupa meluangkan waktu dan kasih sayang kepada mereka.

Adapula kisah seorang anak yang bekerja dan tidak menikah dengan alasan ingin merawat orang tuanya sampai meninggal. Padahal orang tuanya sudah meminta anaknya untuk menikah. Namun ia tidak mau karena takut tidak mampu merawat kedua orang tuanya yang sudah jompo. Setiap kali ditanya oleh orang tuanya, ia selalu menjawab “biarlah saya menanggung Salib Yesus ini sampai ayah dan ibu meninggal”. Benarkah pemaknaan salib anak ini? Tentu saja salah, ia terjebak dalam SALIB PETRUS, karena ia menghabiskan waktu untuk kedua orang tuanya tanpa memikirkan niat untuk membangun rumah tangga, walaupun sebenarnya dirinya masih tetap mampu merawat kedua orang tuanya setelah menikah.    

SobaTanda yang terkasih,

Pernahkah kalian mengalami pemaknaan cinta yang salah semacam ini? Kita pasti pernah mengalaminya. Namun kita tidak pernah menyadarinya karena kita jarang mengajak diri kita untuk merenung, rekoleksi atau retret untuk melihat lebih dalam tentang kencenderungan-kecenderungan penafsiran cinta yang salah dalam diri kita.

2. SALIB YUDAS ISKARIOT

Ilustrasi 30 keping uang perak

Kita semua mengenal Yudas Iskariot, atau biasa dipanggil dengan sebutan Yudas. Ia murid yang kikir dan suka mencuri. Kita dapat mengenal kepribadiannya dalam peristiwa berikut:

  1. Yudas Iskariot dipilih Yesus menjadi bagian para rasul-Nya (bdk. Mrk 3:13-19). Setelah menjadi murid Tuhan Yesus, Yudas bertugas sebagai pemegang kas keuangan. 
  2. Yudas Iskariot mendapat kepercayaan sebagai bendahara diantara para murid. Pada suatu kesempatan ia menunjukkan sifat terhadap uang. Ketika seorang wanita bernama Maria datang dan mengurapi kaki Yesus dengan minyak narwastu yang mahal harganya, Yudas mengeluh, “Mengapa minyak narwastu ini tidak dijual tiga ratus dinar dan uangnya diberikan kepada orang-orang miskin?” (bdk. Yoh 12:5). Dan Yohanes memberi komentar bahwa Yudas berkata demikian “bukan karena ia memperhatikan nasib orang miskin, melainkan karena ia adalah seorang pencuri” (bdk. Yoh 12:6). 

Dalam Yohanes 12:12-19, Yesus yang datang ke Yerusalem dielu-elukan orang banyak. Mereka mengelu-elukan Yesus dengan melambai-lambaikan daun Palma serta menggelar pakaiannya di jalan untuk menyambut kedatangan Yesus di Yerusalem. Semua orang berteriak: “Hosana! Diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan, Raja Israel!”. Semua orang Yahudi yang menyambutnya mengharapkan Yesus yang banyak melakukan mukjizat, dapat menjadi Raja mereka (bdk. Yoh 12:18). 

Para murid yang bersama-sama dengan Yesus, termasuk Yudas Iskariot, pasti merasakan kegembiraan yang luar biasa. Walaupun awalnya merasa bingung akan ucapan Yesus: “Jangan takut, hai puteri Sion, lihatlah Rajamu datang, duduk di atas seekor anak keledai” (bdk. Yoh 12:15), mereka tidak memusingkannya dan tetap ikut merasakaan kegembiraan akan sambutan orang banyak kepada Yesus. 

Yudas Iskariot yang sejak semula dikenal seorang yang kikir, pencuri, dan penuh perhitungan sehingga dipilih memegang kas kelompok, pasti memiliki harapan yang sama dengan orang-orang yang mengelu-elukan Yesus. Ia menginginkan Yesus menjadi Raja Israel. Sebab dengan Yesus menjadi seorang Raja, maka akan sangat menguntungkan dirinya yang seorang bendahara kelompok. Ia akan memegang dan mengatur seluruh keuangan kerajaan, pikirnya.  Maka kesempatan untuk mengambil uang lebih banyak akan lebih terbuka lebar. Ia yakin Yesus yang penuh kuasa Allah itu pasti dapat menjadi seorang Raja. Kekuatan Allah yang menaungi-Nya itu pasti akan mampu mengalahkan penjajah dan menjadikan-Nya raja yang sangat kuat.  

Yesus sebenarnya tahu karakter dan ambisi Yudas Iskariot sejak semula. Ia pasti sering menasehati Yudas Iskariot selama menjadi murid-Nya. Bahkan enam hari sebelum Yesus memasuki Yerusalem dan dielu-elukan oleh orang banyak, Yesus masih sempat menasehati Yudas di Betania. Yudas yang tidak setuju akan perbuatan seorang perempuan Betania yang meminyaki kaki Yesus dengan minyak narwastu yang mahal, karena dapat dijual dan hasilnya diberikan kepada orang-orang miskin(bdk. Yoh 12:5), langsung dinasehati Yesus: “Biarkanlah dia melakukan hal ini mengingat hari penguburan-Ku. Karena orang-orang miskin selalu ada pada kamu, tetapi Aku tidak akan selalu ada pada kamu.” (bdk. Yoh 12:7-8). Harapannya, dengan ucapan Yesus ini Yudas Iskariot langsung menyadari kesalahannya selama ini. Namun, setelah merasakan sambutan luar biasa orang Yahudi yang menginginkan Yesus menjadi Raja baginya, semakin menguatkan ambisinya. Ia harus merealisasikan harapan orang-orang Yahudi tersebut. Maka ia pun membuat skenario untuk membuktikan bahwa Yesus adalah Mesias yang kuat, Raja orang Israel yang sesungguhnya.

Sebelum Yudas Iskariot melaksanakan rencananya tersebut, Yesus pun masih menyinggung lagi akan ambisi Yudas tersebut. Saat perjamuan Paskah, Yesus memberikan roti dan mencelupkannya ke dalam anggur dan diberikan kepada Yudas (bdk. Yoh 13: 26). Harapannya, Yudas akan mengerti akan nasehatnya tersebut. Namun Yudas tetap kukuh akan rencananya (Yohanes menyimbolkannya dengan diri Yudas yang kerasukan iblis). Maka Yesus pun mengatakan: “Apa yang hendak kauperbuat, perbuatlah dengan segera.” (bdk. Yoh 13:27). Yudas pun langsung pergi setelah menerima roti tersebut untuk melaksanakan rencananya (bdk. Yoh 13:30). Ia pergi kepada imam-imam kepala dan kepala-kepala pengawal Bait Allah untuk berunding cara menyerahkan Yesus. Akhirnya mereka bermufakat untuk menyerahkan Yesus tanpa diketahui orang banyak, yaitu setelah Yesus berdoa di Taman Getsemani. Atas rencana gembira ini maka Yudas pun memperoleh sejumlah uang, yaitu 30 keping uang perak dari mereka (bdk. Luk 22:1-6; Mat 26:14-16). 

Namun pada saat Yudas melihat Yesus yang telah dijatuhi hukuman, dan tidak melawan sama sekali, ia pun menyesal. Ambisinya selama ini ternyata salah. Lalu ia mengembalikan uang yang 30 perak itu kepada imam-imam kepala dan tua-tua. Ia menyesal dan berkata: “Aku telah berdosa karena telah menyerahkan darah orang yang tak bersalah.” Maka ia melemparkan uang perak itu ke dalam Bait Suci, lalu pergi dari situ dan menggantung diri (bdk. Mat 27:3-5). Pandangan dan ambisinya akan Yesus yang kuat dan dapat melawan kejahatan dengan kekuatan Allah telah membutakan dirinya. Kesalahannya selama ini pun diakhiri dengan bunuh diri. 

Peran serta Yudas Iskariot dalam kisah penyaliban Yesus ini dapat kita simpulkan sebagai SALIB YUDAS ISKARIOT. Salib yang menunjukkan rasa cinta eros (nafsu) seseorang untuk membuktikan ambisinya. Ia membebankan ambisinya tersebut kepada seseorang untuk merealisasikannya. Berbagai macam masukan dan nasehat tidak akan mampu menyadarkannya sebelum ambisinya ini terealisasi. Kesalahan akan ambisinya baru disadari ketika orang lain yang dibebankannya mengalami penderitaan dan kesusahan akibat perbuatannya. 

Kita pun pernah terjebak di dalam ambisi pribadi yang dibebankan kepada orang lain yang tidak mampu melaksanakannya. Sebut saja seorang ayah yang menginginkan anaknya menjadi seorang dokter yang sukses. Ia berusaha terus menerus mendorong dan mendoktrin akanya untuk menjadi seorang dokter. Padahal anaknya tersebut memiliki minat dan bakat di tempat lain. Secara tes kemampuan pun, dirinya tidak mampu mengikuti pelajaran yang berat untuk menjadi seorang dokter. Anaknya menjadi sering stress, pusing, dan ‘mabuk’ akan pelajaran yang tidak mampu diikutinya. Melihat penderitaan anaknya tersebut, ayahnya selalu menasehati: “sabar dulu, inilah salib Yesus yang harus kamu tanggung supaya hidup kamu sukses.” Benarkah ucapan ayah tersebut? Tentu saja salah, ia terjebak dalam SALIB YUDAS ISKARIOT, bukan salib Yesus. Sebab ia berusaha merealisasikan ambisi dokternya kepada anaknya. Ia lupa bahwa setiap anak memiliki minat dan bakat yang sesuai. Nafsu (cinta eros) ingin menjadikan anaknya seorang dokter sukses telah membutakan mata dan menyengsarakan anaknya. 

Adapula kisah seorang pemimpin yang memegang suatu jabatan untuk mengembangkan sebuah perusahaan yang baru dibangun. Ia berusaha merealisasikan berbagai macam idenya kepada para bawahan yang direkrutnya. Mereka harus berusaha mengikuti ambisi-ambisi idenya untuk dipahami dan dikerjakan dengan cepat. Waktu dan tenaga dari para bawahannya tidak dipedulikan sebelum ide-idenya terealisasi sesuai dengan timeline dan keinginannya. Alhasil, banyak bawahannya yang mundur dan tidak cocok dengan dirinya. Bahkan ada bawahannya yang sampai sakit hati dan meninggalkannya. Setiap kali dinasehati oleh orang lain akan metode kerjanya yang seperti menganggap orang lain sebagai ‘robot’, ia selalu menjawab “biarlah penderitaan kerja ini sebagai Salib Yesus yang harus dipikul bersama-sama!l”. Benarkah pemaknaan salib Yesus ini? Tentu saja salah, ia terjebak dalam SALIB YUDAS ISKARIOT, karena ia terlalu berambisi akan ide-ide dalam pekerjaannya sehingga membebankan banyak orang tanpa dilihat berbagai macam aspek yang memanusiakan. Nafsu (cinta eros) ingin segera merealisasikan ambisi ide-idenya telah membutakan mata dan menyengsarakan para bawahannya. Mereka kerapkali tidak disentuh secara psikis dan kejiwaannnya.  

SobaTanda yang terkasih,

Pernahkah kalian mengalami pemaknaan cinta eros yang ambisius semacam ini? Kita pasti pernah mengalaminya. Namun kita tidak pernah menyadarinya karena kita jarang mengajak diri kita untuk merenung, rekoleksi atau retret untuk melihat lebih dalam tentang kencenderungan-kecenderungan cinta penuh nafsu ambisi (eros) dalam diri kita…. (Bersambung)

Leave a Reply

Your email address will not be published.