Martin Heidegger.
“Om” Martin Heidegger. Sumber: Wikimedia Commons.

Dulu, aku adalah seorang anak yang hilang arah dan tujuan. Aku bisa dan mampu melakukan banyak hal. Aku memiliki teman – teman yang baik. Namun, aku merasakan bahwa diri aku kosong. Aku pun cukup bingung untuk waktu yang agak lama, bahkan setelah aku bertobat. Apa gerangan?

Aku pun berkaca dari om Martin Heidegger1, seorang filsuf kelahiran Jerman. Dalam pembuka bukunya, Being and Time, ia berargumen bahwa mempertanyakan “ada” itu penting. Biasanya, kalau kita datang atau menelpon ke kantor atau rumah teman, kita bertanya ke orang yang ada di sana, “Ibu Yohan ada?” atau, “Si Josh ada?”. Misalnya juga, kalau ada pohon natal, kita berkomentar, “Pohon natalnya dihiasi hiasan yang bagus banget!” Karena kebiasaan dan kebutuhan hidup sehari – hari, kita menyebut segala sesuatu yang ada tanpa bertanya, “Ada itu apa?” Ada itu nyata di hadapan kita, juga kita temui setiap hari, tetapi tidak bisa diraih dengan logika. Bahkan, kalau kita bertanya dan mengharapkan jawaban logis, “Ada apa?” atau “Gurame itu apa?”, kita hanya meraih “embel – embel” dari segala sesuatu, misalnya “aku sedang sedih” atau “Gurame itu ikan yang hidup di tambak, bisa dipancing, lalu digoreng asam manis”. Semua itu benar, tapi kita tidak tahu gurame itu apa.

Bagi om Heidegger, “ada”, “gurame”, “pohon natal”, dan “Josh” tidak ada di hadapan kita begitu saja. Semua yang kita lihat dari Ada adalah “embel – embel” tadi. Segala ilmu yang sudah ada sebelum si om adalah ilmu yang menafsirkan “ada” seturut sifat “ada” mereka sendiri, sehingga sekedar menambah “embel – embel” si Ada. Kalau ada Kevin, Kevin dilihat dari luar dan diterjemahkan oleh Karin. Karin pun diterjemahkan oleh temannya, dan seterusnya. Maka perlu dibedakan antara Ontologi dan ilmu – ilmu Ontik, maksudnya antara filsafat yang memahami Ada dan ilmu yang didasarkan kepada perspektif tertentu. Meski demikian, ilmu ontik sebenarnya berguna untuk mencari kesadaran akan jati diri kita. Psikologi, sosiologi, dan ekonomi bisa menjelaskan perilaku kita ketika membeli ramen di mall dan bukan di pinggir jalan. Pengamatan perilaku diri bisa menyingkap kegelisahan yang disimpan ketika kita selesai berbohong. Diri yang ditemukan oleh manusia, Sein, dari ilmu semacam itu disebut Dasein. Dasein selalu mencari, “bisakah aku menjadi diriku?” “bisakah aku tidak menjadi diriku?” Dasein adalah permulaan dari pengetahuan akan “ada”.

Aku pun berkaca, dan bertanya, “Kalau begitu, apakah aku tidak ada ketika aku merasa kosong?” Jawaban yang ditemukan diriku, aku ada, hanya saja tidak menampakkan diri. Ketika aku hilang arah, aku menyibukkan diri dengan berbagai hal, ada yang baik, ada yang berguna, tetapi kebanyakan tidak. Aku menyibukkan diri dengan “embel – embel”, mengeluh soal keadaan dan perasaan, juga penghakiman orang lain, sedemikian rupa sehingga aku mengidentifikasikan “embel – embel” tersebut dengan diriku. Aku yang tadinya adalah Dasein, yaitu aku yang selalu mempertanyakan keberadaanku, menjadi lupa akan pencarianku itu. Aku menerima begitu saja keberadaanku yang menyedihkan: masalah keluargaku, dosa – dosaku, kemunafikanku. Aku tidak peduli lagi siapa aku, yang aku pedulikan adalah apa yang kudapat!

Salah satu embel – embel tersebut adalah sakit hati. Karena aku tidak melupakan perbuatan seseorang yang menyakitiku, sakit hati berubah menjadi luka, berubah menjadi bengkak. Sakit hati menjadi semacam pengetahuan yang memberiku kekuatan negatif, sedemikian rupa sehingga aku memikirkan hal – hal yang jahat. Karena selalu berpikir dan berbuat jahat, aku tidak pernah duduk diam, bernapas, serta merenungkan segala sesuatu yang aku perbuat. Aku tidak mendengar panggilan Tuhan untuk menolong mereka yang kesulitan dan kesusahan, hanya memperhatikan penderitaan aku sendiri. Aku pun tidak menjawab panggilan itu, sekedar “masuk kuping kiri, mental”. Aku menjadi tikus tanah yang buta.

Aku baru sadar akan hal tersebut ketika aku hendak bertobat. Ketika aku kembali kepada dosa – dosaku, aku berpikir, “Untuk apa aku beragama? Toh aku berdosa.” Aku tertampar dengan diri aku yang menggali dengan buta dan meraba – raba seperti tikus tanah. Aku berpikir, “Aku bisa menjadi santo, atau terbakar di neraka selamanya.” Akhirnya, aku mendatangi sakramen pengakuan dosa. Dasein kembali bangkit. Aku kembali memiliki cita – cita dan bukan sekedar hidup demi membalas dendam. Ternyata, aku Ada. Aku hanya terkubur oleh aksi diriku sendiri untuk menghindar dari kegelisahan yang hendak melimpah ke luar sampai habis, sebuah tanda bahwa aku harus berekonsiliasi dengan Tuhan. Diriku, ada – ada saja kau ini!

Kevin Reiner Hidayat

Bdk. Heidegger, Martin. Being and Time, terj. Joan Stambaugh. New York: State University of New York Press, 2010, 14-27.

Leave a Reply

Your email address will not be published.