Ilustrasi Hujan
Ilustrasi menyetir di tengah hujan. Sumber: Pexels.com.

Suatu sore, aku sedang mengarungi lautan manusia berkuda besi di jalanan ibukota. Suatu kejadian menyentak aku keluar dari kubangan lumpurku. Kejadian tersebut adalah… hujan.

Biasanya, dalam hari yang kelabu, yang menjadi duka bagi kaum pemilik kuda besi yang rajin mencuci kuda kesyaangannya, mereka yang kudanya beroda dua minggir ke bawah jembatan penyeberangan yang melintang di atas kepala, sama seperti status sosial mereka yang terpinggirkan. Jembatan penyeberangan yang meninggikan mereka yang meminta – minta dan menurunkan mereka yang sekedar lewat tak peduli.

Sekilas, ada dua hal: pikiran dan perasaanku. Perasaanlah yang menimbulkan pikiranku. Perasaan senang karena berada di mobil, dan tidak kehujanan. Pikiran yang serentak membuat cemas kaki yang ngegas dan tangan yang sebentar ke kiri, sebentar ke kanan. Pikiran yang berkata, kejam kau!

Perasaan tadi kurangkum dalam satu kalimat: Senang melihat orang menderita. Kupecah dua perasaan itu, senang, melihat orang menderita. Apa hasilnya, jika kuolah kata – kata dalam mesin permenungan, sehingga menghasilkan rumusan baru?

“…Ya Allah, aku mengucap syukur kepada-Mu, karena aku tidak sama seperti semua orang lain, bukan perampok, bukan orang lalim, bukan pezinah dan bukan juga seperti pemungut cukai ini…” (Luk 18:11)

Maka dalam examen ini aku pun memutuskan untuk bertobat dan memohon ampun.

***

Kemudian, aku berpikir, bagaimana aku bisa menjadi seperti demikian? Aku pun terus menembus tirai hujan dan jalanan basah, basah seperti deskripsi soal logika standar. Mengapa aku senang ketika aku melihat orang susah?

Teringat saat – saat dimana aku menanggung beban berat. Saat – saat itu adalah saat dimana aku mengeluh, “mengapa aku menderita?” Di masa kini, aku mengingat sebuah kisah dari jaman dahulu…

“Bagaimana tidak Aku akan sayang kepada Niniwe, kota yang besar itu, yang berpenduduk lebih dari seratus dua puluh ribu orang, yang semuanya tak tahu membedakan tangan kanan dari tangan kiri, dengan ternaknya yang banyak?” (Yun 4:11)

Ternyata demikian pula aku seperti Yunus. Aku tidak mendapat apa – apa dari para pengemudi motor selain salipan dan selipan tiada henti. Aku juga tidak ikut membantu kesejahteraan hidup mereka. Tetapi Tuhan sayang pada mereka. Aku tidak, malahan agak benci. Karena itulah aku tidak berbelas kasihan ketika mereka kehujanan.

Melihat bahwa ini adalah sebuah perbuatan dosa, aku sekali lagi berkata dalam examen, supaya Tuhan mengampuni aku.

***

“Lantas, apa itu belas kasihan, Tuhan?” tanyaku seiring hujan mulai mereda, seakan seperti murka Tuhan yang reda setelah banjir besar yang membasmi seluruh bumi kecuali Nuh dan keluarganya. Apakah belas kasihan seperti hujan yang turun bagi orang benar dan orang berdosa?

Selang beberapa detik, sebuah mobil lewat di atas jembatan yang tergenang air. Bonus tanggal tua pun menyiram kaca mobilku dengan kasar. Inspirasi pun masuk seperti tetes air mengalir di jendela kaca.

Jika mobil tersebut lewat di jembatan, ia mempunyai pilihan untuk lewat dengan wajar, atau mengebut seperti mau mengejar Dominic Toretto. Demikian pula belas kasih. Pada mulanya adalah sebuah pilihan. Pilihan itu diambil, lalu aku menjadi terbiasa dengan pilihan yang lebih nyaman, sehingga aku pun tertawa melihat kesengsaraan orang lain. Demikian, belas kasih bagiku adalah sebuah keutamaan yang gagal aku bentuk. Aku pun memohon ampun dalam examen ini.

***

Aku pun melihat: aku tahu pilihan yang benar, tetapi aku tidak melaksanakannya. Aku mau meneruskannya sampai ke titik dimana aku terbiasa. Akhirnya, dalam perkara kecil ini, aku ditemukan bersalah. Lantas, apa kata gereja?

KGK 1857 :  Supaya satu perbuatan merupakan dosa berat harus dipenuhi secara serentak tiga persyaratan: “Dosa berat ialah dosa yang mempunyai materi berat sebagai obyek dan yang dilakukan dengan penuh kesadaran dan dengan persetujuan yang telah dipertimbangkan” (RP 17).

Aku sadar ketika aku memilih tindakanku. Aku mau melakukannya dan menjadi terbiasa. Dalam perkara sekecil merasa kasihan kepada orang yang kehujanan, aku telah berdosa di dalam hatiku. Satu – satunya yang membuatku lolos dalam examen ini adalah karena perkaranya bukan perkara yang menghilangkan nyawa, menggoncang iman banyak orang, atau semacamnya. Meski demikian, dosa tetap dosa. Kubangan lumpur tidak seperti pasir hisap, tetapi aku tetap kotor. Maka aku memohon ampun, dan merencanakan partisipasiku untuk membantu kesejahteraan sesama secara lebih luas. Mungkin, aku bisa mulai mencari penghasilan yang lebih besar, sehingga aku bisa turut membayar pajak? Mungkin, aku bisa memberi kolekte lebih besar? Mungkin, aku bisa memberi berbagai sumbangan dan tumpangan? Mungkin. Semuanya adalah pilihan bagiku. Saatnya aku memutuskan. Maukah SobaTanda ikut memutuskan?

Kevin Reiner Hidayat

Leave a Reply

Your email address will not be published.